Sejarah

BUMNIS atau lebih gamblangnya disebut sebagai badan usaha milik negara industri strategis adalah istilah khusus yang diberikan sebagai menjadi pengenal bagi industri yang dianggap penting bagi negara. Istilah ini dianggap merepresentasikan suatu hal yang menguasai hajat hidup orang banyak, meningkatkan atau menghasilkan nilai tambah sumber daya alam strategis, atau berkaitan dengan kepentingan pertahanan serta keamanan negara dalam rangka pemenuhan tugas pemerintah negara. Lingkup definisi yang tercantum pada Undang-undang No 3 tahun 2014 tentang Perindustrian inilah yang melekat dengan BUMNIS.


Sejak pendiriannya pun, BUMNIS beberapa kali mengalami pergeseran pembinaan dan pengelolaan. Mulai dari Departemen Teknis, Tim Pengembangan Industri Hankam (1980-1983), Tim Pelaksana Pengembangan Industri Strategis (1983-1989), Kementerian Riset & Teknologi atau Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) (1989-1998), PT Bahana Pakarya Industri Strategis (1998-2002), hingga Kementerian BUMN (2002-sekarang). Namun, hingga puluhan tahun, nama BUMNIS ini masih belum menunjukkan taji sinergi. Setiap perusahaan masih bekerja mengejar targetnya masing-masing, bahkan meski itu beririsan dengan BUMNIS lainnya. Hal itu menjadi sebuah atmosfir yang kurang sehat, hingga akhirnya Kementerian BUMN pun turun tangan. Telanjur basah ya sudah, cari gaya berenang yang pas supaya terlihat indah, mungkin begitu ibaratnya.

Lalu munculnya sebuah koordinasi skala besar. Menteri BUMN Rini Soemarno yang langsung memimpin. Sebanyak 119 direktur utama dan 500 personil di lingkungan BUMN pun urun rembug di atas perairan Laut Jawa. Ini mungkin aksi yang terbilang fantastik. Sebab, kini kembali muncul istilah baru.


NDHI. National Defence and Hightech Industries. Belum banyak yang mengenal istilah ini. Namanya pun belum sepopuler istilah BUMNIS. Wajar saja, usia NDHI masih seumur jagung. Lahir dari sebuah focus group discussion (FGD) antara Menteri BUMN Rini Soemarno dengan sejumlah direktur utama yang diadakan di atas Kapal Motor (KM) Kelud. Selama 13 jam terapung di atas lautan, berangkat dari Tanjung Priok Jakarta hingga Tanjung Mas Semarang, didapatlah sebuah kesepakatan, tepatnya pada 21 November 2015, untuk saling bersinergi. Tidak lagi berusaha sendiri-sendiri. Salah satunya NDHI.

Akhirnya, keenam perusahaan inipun kemudian berembug, menyatukan ide untuk membuat penanda atau pengenal. Sebab, tidak mungkin NDHI berkegiatan tanpa pengenal, atau tetap mengusung logo masing-masing perusahaan. Kemudian terbentuknya logo yang mengedepankan nama NDHI itu sendiri. Desain fokus pada bentuk tulisan dan warna.


NDHI menggunakan orange sebagai elemen tunggal. Orange, peleburan warna merah dan kuning, akan memberi kesan hangat dan bersemangat. Warna ini juga akan memberikan simbol petualangan, optimisme, percaya diri, kemampuan dalam bersosialisasi, juga mencakup berbagai emosi, dengan cerminan dominan pada aspek keberanian.

Dengan logo lugas ini, NDHI ini menjadi wadah bagi enam perusahaan pelat merah yang dikelompokkan sebagai industri bidang pertahanan dan teknologi tinggi. Terdiri dari PT Dahana (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero), PT Industri Nuklir Indonesia (Persero), PT Len Industri (Persero), PT Pindad (Persero). Wadah ini tak lagi sekedar formalitas. Sebab, wadah ini menjadi alat untuk menciptakan sebuah sinergi, entah dengan perusahaan yang masih dalam satu lingkup bisnis yang sama atau lintas sektor. Tujuannya supaya tidak saling memakan.

Hajatan perdana ditunjukkan di perhelatan pameran pertahanan skala internasional pada penghujung tahun 2016. Kala itu keenam perusahaan pelat merah ini, ditambah dengan tujuh BUMN yang masuk klaster National Shipbuilding and Heavy Industry (NSHI), pamer bersama dalam satu booth raksasa. Setelah itu, baik NDHI dan NSHI pun giat berkonsolidasi. Bahkan, NDHI pun bisa dibilang agresif. Dalam tahun ini, klaster ini telah merumuskan sejumlah agenda pemasaran dan publikasi bersama. Semoga sinergi enam perusahaan yang tergabung dalam NDHI ini terus agresif dan tidak melempem di tengah jalan. Semangat Membangun Negeri! ***